Loading…

KEPUTUSAN & EMOSI YANG DIRASAKAN SAAT MEMAAFKAN ORANG LAIN

forgiving child

Terimakasih kepada 114 orang responden yang telah mengisi kuesioner Humility dari Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia wilayah 1. Responden yang mengikuti kuis ini bersifat beragam dan campuran dari berbagai Universitas yang ada diseluruh Indonesia, dalam rentang usia rata – rata 19 – 23 tahun.

Lalu mengenai hasilnya, kami mengelompokkan berdasarkan 3 kategori. Kategori pertama yaitu presentase keputusan untuk memaafkan orang lain yaitu 67,54 % (77 orang), netral yaitu 8,77% (10 orang) dan keputusan untuk belum memaafkan orang lain yaitu  23,68% (27 orang). Lalu kategori kedua, emosi positif yang dirasakan ketika memaafkan orang lain yaitu 46,49% (53 orang), netral yaitu 9,65% (11 orang) dan emosi negatif yang dirasakan yaitu 43,86% (50 orang). Kemudian kategori terakhir, presentase keputusan untuk memaafkan orang lain dengan dibarengi emosi positif ketika memaafkannya adalah 35,09% (40 orang) saja.

Baiklah pembaca, didapatkan hasil yang menarik secara statistik mengenai ini. Dimana memang cukup banyak orang yang dapat memutuskan untuk memaafkan orang lain secara zahir. Namun, masih sedikit orang yang mampu memaafkan dari hati yang paling kecilnya. Orang lain itu mungkin saja dia tidak pernah memikirkan kesalahan yang dilakukannya terhadap kita, namun tidak dengan kita yang sering memikirkan rasa sakit hati perlakuan orang tersebut terhadap kita. Jadi dalam hal ini kita dirugikan, oleh karena itu belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain demi kesejahteraan kita sendiri.

Berikut dalam artikel ini kami akan membahas mengenai apa itu pemaafan, tips untuk menumbuhkan sikap pemaaf, manfaat memaafkan kesalahan orang lain, dan kerugian jika tidak ingin memaafkan orang lain. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita dalam kehidupan sehari – hari.

 

  • Defenisi Pemaafan

 Menurut Smedes (1984) menerima orang lain tidak sama dengan memaafkan. Menerima orang lain terjadi ketika orang lain tersebut dianggap sebagai orang yang baik. Sementara itu, memaafkan orang lain terjadi tatkala orang lain itu melakukan hal- hal buruk terhadap sesuatu.

Pemaafan merupakan kesediaan untuk menanggalkan kekeliruan masa lalu yang menyakitkan, tidak lagi mencari-cari nilai dalam amarah dan kebencian, dan menepis keinginan untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri. Pendapat senada dikemukakan oleh McCullough dkk. (1997) yang mengemukakan bahwa pemaafan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk konsiliasi hubungan dengan pihak yang menyakiti. Enright (dalam McCullough dkk., 2003) mendefinisikan pemaafan sebagai sikap untuk mengatasi hal- hal yang negatif dan penghakiman terhadap orang yang bersalah dengan tidak menyangkal rasa sakit itu sendiri tetapi dengan rasa kasihan, iba dan cinta kepada pihak yang menyakiti.

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemaafan adalah upaya membuang semua keinginan pembalasan dendam dan sakit hati yang bersifat pribadi terhadap pihak yang bersalah atau orang yang menyakiti dan mempunyai keinginan untuk membina hubungan kembali.

 

  • Tips Menumbuhkan Sikap Pemaaf

Menurut Robert Enright, dkk., tindakan memaafkan atau sifat suka memaafkan bukan merupakan sifat bawaan seseorang. Tindakan memaafkan atau tidak memaafkan merupakan pilihan, dan kemampuan memaafkan ini dapat dilatih dan dipraktekkan semua orang yang menginginkannya. Berikut adalah beberapa strategi berbasis penelitian untuk memasuki kapasitas tersebut, apakah Anda sedang mencoba untuk memaafkan orang lain, memaafkan diri sendiri, atau mengharapkan pengampunan dari orang lain.

  1. Pandanglah sifat memaafkan sebagai bagian dari Anda, bukan pemberian atau kemurahan hati kepada orang lain. Dalam Nine Steps to Forgiveness, Fred Luskin menekankan bahwa tindakan memaafkan lebih baik dipandang sebagai sesuatu yang akan membawa kedamaian ke dalam diri Anda dan mengurangi penderitaan
  2. Artikulasikan emosi Anda. Jika Anda ingin memaafkan atau dimaafkan, ungkapkan perasaan Anda kepada orang lain.
  3. Pupuk empati. Ketika kita terluka, kita cenderung untuk memaafkan dan enggan membalas jika kita mampu merasakan atau membayangkan penderitaan atau penyesalan yang dirasakan oleh orang yang menyakiti mereka. Sebaliknya juga demikian, jika kita melukai orang lain, kita akan cenderung meminta maaf bila kita mampu merasakan atau membayangkan penderitaan orang lain yang kita lukai.
  4. Jangan terlalu lunak pada diri sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan terlalu permisif terhadap kesalahan diri sendiri kadang-kadang dapat mengurangi empati kita kepada orang lain. Akibatnya kita menjadi sulit meminta maaf kepada orang lain, karena kita memandang sepele hal yang menimpa orang lain.  Pandanglah, bahwa masing-masing orang punya kemampuan dan perspektif yang berbeda dalam menanggung dan memandang suatu hal.
  5. Motivasi diri Anda untuk menebus kesalahan dengan memperbaiki diri. Bila hal itu terhadap orang lain, berempatilah kepada penderitaan orang lain, jujurlah mengakui kesalahan.
  6. Carilah perdamaian, bukan keadilan. Ada satu nasihat yang sangat baik soal perdamaian, yang mengatakan “Jika hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”.
  7. Dapat melakukan keadilan adalah hal yang indah, akan tetapi seringkali ketika kita menuntut keadilan, kita terbentur dengan perdamaian.
  8. Pahami bahwa bahwa memaafkan adalah sebuah proses. Tindakan memaafkan tidak terjadi dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu dan energi untuk mewujudkannya. Pun, kedamaian yang diperoleh dari memaafkan. Seseorang mungkin tidak langsung bahagia dan bebas dari luka batin seketika. [greatergood.berkley.edu]

Dengan mengingat kembali manfaat memaafkan dan mengapa itu penting bagi kita, semoga kita hidup dalam perdamaian dengan semua orang.

 

  • Lima Manfaat Memaafkan Kesalahan Orang Lain bagi Kesehatan
  1. Mengurangi Stres

Penelitian menemukan bahwa saat kita memikirkan dendam, tekanan darah dan denyut jantung akan meningkat. Ini menandakan bahwa stres sedang melanda. Ketika kita memaafkan, tingkat stres akan turun. Penelitian juga menunjukkan bahwa menyimpan dendam berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh yang bisa membuat kita lebih rentan terhadap penyakit.

  1. Menyehatkan Jantung

Hubungan yang didasari rasa saling memaafkan terhadap sesama yang pernah menyakiti atau menghianati membantu kita memperbaiki tekanan darah dan detak jantung. Semakin rendah tingkat kemarahan yang kita pendam maka akan semakin memperingan kinerja jantung kita. Penelitian menunjukkan ketika seseorang memaafkan sebuah pengkhianatan akan membuat tekanan darah, denyut jantung dan kerja jantung menjadi lebih baik sehingga jantung akan lebih sehat.

  1. Mengurangi Rasa Sakit

Penelitian terhadap individu yang mengalami sakit punggung kronik menemukan, berlatih meditasi untuk mengendalikan rasa marah lebih berkesan mengurangi rasa sakit dan rasa tegang dibandingkan dengan terapi kesehatan biasa. Marah adalah perilaku yang bisa membuat individu berbuat negatif dan ini akan mengganggu kesehatan.

  1. Hubungan Bertahan Lama

Penelitian menemukan orang yang selalu memaafkan dan bermurah hati terhadap pasangannya akan lebih mudah menyelesaikan konflik sehingga mampu membuat hubungan bertahan lebih lama. Hubungan yang lebih kuat berdampak positif terhadap kesehatan.

  1. Lebih Sehat dan Bahagia

Ketika kita memaafkan orang lain kita akan membuat diri sendiri merasa lebih bahagiajika dibandingkan dengan orang lain yang memaafkan kita. Salah satu survei menunjukan bahwa orang yang berbicara tentang memaafkan selama sesi psikoterapi mengalami peningkatan kesehatan yang lebih besar dibanding mereka yang tidak.

Memaafkan kesalahan bukan berarti kelemahan membolehkan orang lain untuk melukai dan bukan sesuatu yang merendahkan diri sendiri atau membolehkan suatu perbuatan yang salah. Kita bisa memaafkan namun tanpa membiarkan suatu keburukan. Meminta maaf adalah perwujudan cinta, kebaikan dan rasa sayang yang tidak egois, tanpa pamrih dan tidak menyalahgunakan.

 

  • Dampak Negatif jika Tidak Memaafkan

Guy Pettitt, seorang psikolog dari Selandia Baru menemukan bahwa memikirkan orang yang menyakiti kita dan belum kita maafkan akan membuat otot-otot menjadi tegang. Dengan sebuah alat pengukur ketegangan otot, ia menemukan otot-otot yang tegang terutama adalah di sekitar leher, punggung, tungkai, dan lengan. Ketegangan pada otot leher lebih lanjut dapat menimbulkan sakit kepala.

Masih menurut psikolog yang banyak meneliti mengenai proses memaafkan ini, tidak

hanya otot yang tegang saat peristiwa menyakitkan itu mampir di pikiran kita, tetapi juga persendian. Ketegangan di sekitar sendi akan membuat aliran darah ke permukaan sendi menurun. Akibatnya, aliran oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh akan terhambat, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme tubuh. Tidak hanya itu, aliran darah ke jantung juga terhambat. Sistem kekebalan tubuh juga terganggu sehingga mudah terkena infeksi. Tubuh pun menjadi lebih rentan untuk sakit.

Orang yang tidak dapat memaafkan biasanya juga sulit tidur terutama jika benaknya masih dipenuhi kekecewaan dan sakit hati. Padahal perbaikan jaringan tubuh paling besar justru terjadi saat kita tidur. Oleh karena itulah, jika hati kita masih diselimuti kekesalan terhadap orang yang menyakiti kita, regenerasi sel yang berguna bagi proses penyembuhan luka juga akan terhambat. Jika sudah begini, perawatan kulit di klinik kecantikan yang mahal pun tidak akan berdaya maksimal dalam mengatasi kondisi kulit yang memburuk.

Yang menarik, Pettitt juga menemukan orang-orang yang tidak dapat memaafkan berisiko lebih tinggi untuk menderita sakit gigi dan rahang. Karena tanpa disadari, mereka tidur dengan posisi gigi yang mencengkeram kuat.

Itu baru dampak terhadap kondisi fisik. Dan perlu diingat, kondisi fisik ini dapat memengaruhi aspek lain. Aspek pekerjaan, misalnya. Siapa yang dapat bekerja optimal jika hatinya terus memaki sahabat yang memfitnahnya? Demikian pula dalam aspek hubungan interpersonal, dapatkah kita memberi perhatian kepada pasangan jika kita sedang sakit kepala? Jika kedua aspek ini terganggu, bukan tidak mungkin kondisi fisik semakin memburuk.

Sulit memaafkan juga berpotensi untuk memenjarakan kita dalam pikiran negatif. Pertama, kita berpikir negatif mengenai orang yang telah menyakiti kita. Semua perbuatan baik yang pernah ia lakukan akan hilang seketika saat ia melukai kita. Bahkan jika setelah itu ia mencoba untuk berbaik baik, kita tidak dapat menerimanya karena sudah dipenuhi asumsi negatif tentangnya.

Kedua, kita juga berpikir negatif terhadap orang lain yang tidak terkait dengan peristiwa itu. Hal ini disebabkan pandangan kita menjadi sempit jika belum memaafkan. Kita dapat terperangkap dalam seksisme, prasangka, dan diskriminasi. Misalnya kita menganggap semua pria itu tukang selingkuh. Atau kita membuat stereotipe negatif terhadap orang lain yang memiliki etnis, agama, atau aspek lainnya yang sama dengan orang yang telah menyakiti kita. Hal ini tentu berdampak buruk pada relasi sosial kita.

Ketiga, tidak dapat memaafkan juga membuat kita berpikir negatif tentang diri sendiri. Kita menyalahkan dan melabel diri sendiri sebagai orang bodoh sampai bisa tertipu atau dikhianati. Ditemukan bahwa pasangan yang dikhianati cenderung rendah diri karena mencari kekurangan diri sendiri seperti mungkin kurang cantik, tidak muda lagi, ataupun kurang mapan.

Memikirkan hal negatif memang lebih mudah dibandingkan yang positif. Namun berpikir negatif membutuhkan energi psikologis yang besar. Orang yang terus berfokus pada aspek negatif lama kelamaan akan mengalami lelah mental. Stres, cemas, dan depresi, akan dengan mudah menghampiri orang-orang seperti ini.

Sebaliknya, jika memaafkan, otomatis kita akan terhindar dari dampak-dampak negatif di atas. Ketika memaafkan, kita sebagai si pemaaf juga akan tersembuhkan. Memaafkan dapat memberi kelegaan. Lebih dari itu, memaafkan akan membantu kita untuk memulai lembaran baru. Dengan memaafkan, pikiran negatif hilang, beban berat terangkat, stamina tubuh terjaga, sehingga dengan mudah kita dapat memikirkan dan melakukan tindakan positif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/Psikologi%20%20Pemaafan.pdf

http://www.tipsmu-tipsku.com/2013/08/apa-manfaat-memaafkan-dan-meminta-maaf.html

http://www.jendelacito.info/2015/07/5-manfaat-memaafkan-kesalahan-orang-lain-bagi-kesehatan.html

https://esterlianawati.wordpress.com/2009/10/11/mari-belajar-memaafkan/

Tinggalkan Balasan