Loading…

VIOLENCE AGAINST WOMEN : 16 DAYS OF ACTIVISM AGAINST GENDER VIOLENCE

Oleh : BPPK ILMPI Wilayah I

 

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan termasuk fenomena sosial yang tidak terlepas dari kehidupan sosial manusia yang cenderung  berdampak negatif terhadap emosi, psikologi, seksual, fisik, maupun material korban  serta dilakukan secara individual maupun kelompok (Wangga & Kardono, 2019).

Berdasarkan Hasil survei  SPHPN dalam Badan Pusat Statistik (2017) menunjukkan bahwa terdapat 1 dari 3 perempuan dalam rentang usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual . Berdasarkan  CATAHU (2020)  dalam kurun waktu 12 tahun dari 2008-2019 kekerasan terhadap perempuan meningkat hingga 792% (hampir 800%) yang berarti selama 12 tahun mengalami peningkatan hingga 8 kali lipat. Setiap harinya terdapat 28 perempuan menjadi korban kekerasan seksual di indonesia (Hotifah, 2011)

women

 

Apa Saja Bentuknya ?

Menurut Hotifah (2011) terdapat 4 bentuk kekerasan terhadap perempuan, yaitu:

  1. Kekerasan Fisik: Suatu tindakan kekerasan meliputi memukul, menendang dan lainya berhubungan dengan fisik yang mengakibatkan luka, rasa sakit, cacat hingga kematian.
  2. Kekerasan Psikis: Suatu tindakan penyiksaan melalui verbal seperti menghina, berkata kasar dan kotor yang berakibat menurunnya kepercayaan diri, rasa takut, tidak berdaya dan kemampuan untuk bertindak.
  3. Kekerasan Seksual: Suatu perbuatan berhubungan dengan pemaksaan kepada istri untuk melakukan hubungan intim dengan cara yang tidak wajar.
  4. Kekerasan Ekonomi: Suatu tindakan untuk membatasi istri dalam bekerja diluar maupun didalam rumah, membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi, menuntut istri memperoleh penghasilan lebih, tidak mengizinkan istri meningkatkan karir, sementar suami sama sekali tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

 

Faktor-Faktor Kekerasan Terhadap Perempuan

Dalam Warjiati (2014) Terdapat beberapa Faktor penyebab kekerasan terhadap perempuan, yaitu:

  1. Budaya Patriaki yang menempatkan lelaki sebagai superior sedangkan perempuan sebagai inferior.
  2. Pemahaman yang salah terhadap agama bahwa laki-laki berkuasa sepenuhnya atas perempuan (privilege)
  3. Di lingkungan masyarakat lelaki dibentuk dan dituntut untuk menjadi kuat dan berani tanpa ampun.
  4. Budaya yang masih mendorong agar istri bergantung pada suami, terutama dalam bidang ekonomi.
  5. Dalam pandangan masyarakat KDRT bukanlah persoalan sosial melainkan persoalan pribadi suami dan istri

 

Apa yang Korban Alami Selanjutnya ?

  1. Psikologis : Muncul rasa takut yang akan membayangi setiap harinya, sehingga memunculkan trauma.
  2. Isolasi: Perempuan korban kekerasan memiliki akses yang sangat minim akan dukungan personal
  3. Perasaan tidak berdaya: Berada pada situasi “Learned Helpessnessdimana mereka merasa bahwa upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah tersebut tidak akan ada yang bisa mengubah keadaannya sehingga menimbukan perasaan tidak berdaya (Powerlessness).
  4. Menyalahkan diri sendiri: Merasa bahwa “Akulah penyebabnya, aku yang salah, dan aku pantas menerimanya”
  5. Ambivalensi: Perempuan korban kekerasan oleh pasangannya sendiri namun bukan terjadi setiap saat dan  merasa bahwa pasangannya sangat baik dan mencintainya, sehingga muncul kebingungan. “saya ingin kekerasan ini berkahir, tapi tidak dengan pernikahannya”
  6. Harga diri rendah: Semakin parah, semakin lama dan semakin buruk kekerasan yang dialami maka akan semakin rusak citra dan harga dirinya.

 

Upaya Pencegahan

  • Promotif/Pembinaan baik terhadap pemerintah maupun masyarakat.
  • Mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam keluarga dan masyarakat.
  • Membangun keluarga harmonis dan sejahtera.
  • Membangun sikap saling menghargai antara perempuan dan laki-laki
  • Peningkatan kesadaran hukum dan kekerasan terhadap perempuan.
  • Preventif
    • Kampanye Anti Kekerasan
    • Penyuluhan tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan
    • Pendidikan dan pelatihan

 

Tips untuk Perempuan agar Terhindar dari Tindak Kekerasan

  • Memahami bentuk-bentuk kekerasan
  • Membentengi diri dengan belajar bela diri
  • Memahami hubungan yang sehat
  • Waspada pada perubahan situasi, gelagat, serta perilaku mencurigakan
  • Hindari berada di lokasi yang sepi dan berbahaya

 

Apa yang Harus dilakukan Ketika Menjadi Korban Kekerasan ?

  • Bersikap tegas dan membela diri
  • Jangan merasa takut karena kamu tidak salah
  • Tidak bertindak gegabah
  • Segera mencari perlindungan ke tempat aman dan ramai
  • Meminta pertolongan atau ceritakan pada orang yang terpercaya
  • Menyimpan barang bukti
  • Melaporkan kekerasan yang dialami kepada pihak berwajib atau pusat layanan terdekat
  • Call 119 Ext. 8

 

STOP VIOLENCE AGAINTS WOMEN

Say No !!!

Women are not object,

Let Woman walk in peace

#OrangeTheWorld

 

REFERENSI

bps.go.id. (2017, 30 Maret). Satu dari Tiga Perempuan Usia 15–64 Tahun pernah mengalami Kekerasan Fisik dan/atau seksual selama hidupnya. Diakses 20 November 2020, dari https://www.bps.go.id/pressrelease/2017/03/30/1375/satu-dari-tiga-perempuan-usia-15-64-tahun-pernah-mengalami-kekerasan-fisik-dan-atau-seksual-selama-hidupnya.html

Hotifa, Yuliati. (2011). Dinamika Psikologi Perempuan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jurnal PERSONIFIKASI, 2(1), 62-75.

komnasperempuan.go.id. (2020, 06 Maret). CATAHU 2020 (Kekerasan meningkat: Kebijakan Penghapusan Kekerasan Seksual untuk Membangun Ruan Aman Bagi Perempuan dan Anak Perempuan. Diakses 20 November 2020, dari https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2020/Catatan%20Tahunan%20Kekerasan%20Terhadap%20Perempuan%202020.pdf

Wangga, Maria Silvia E & Kardono, R. Bondan Agung. (2019) Alternatif Penyelesaian Kekerasan Terhadap Perempuan. ADIL Jurnal Hukum, 9(2), 78. DOI: 10.33476/ajl.v9i2.829

Warjiati, Sri. (2014). Penangan Terhadap Peremuan Korban Kekerasan. The Indonesian Journal of Islamic Family Law, 4(2), 500-515.

 

Tinggalkan Balasan