Loading…

PERAN KELUARGA TERHADAP RESILIENSI PASIEN COVID-19 | KAJIAN KOLABORASI ILMPI WILAYAH I

Oleh : Universitas Jambi

            Universitas Islam Riau

            Universitas Abdurrab Riau

            Universitas Negeri Padang

            Universitas Muhammadiyah Lampung

Current Condition

Per 28 Februari 2021, total pasien COVID-19 di Indonesia mencapai 1.334.634 kasus terkonfirmasi. Ada peningkatan sebanyak 5.560 kasus dari hari sebelumnya. Angka kesembuhan juga mengalami peningkatan sebanyak 6.649 jiwa. Penyebaran virus yang terjadi telah membentuk bebrapa pandagnan-pandangan negative. Survey yang dilakukan oleh Laporcovid-19 dengan Kelompok Peminatan Intervensi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, masih terdapat stigma negatif terhadap pasien, penyintas, bahkan terhadap keluarga dan tenaga medis yang menangani COVID-19. Hasil survey di atas memaparkan tedapat 55 % dari responden yang terjangkit atau penyintas COVID-19 mengaku pernah dijadikan buah bibir. 33 % menyatakan pernah dikucilkan dan 25 % pernah dilabeli sebagai pembawa virus. Hal ini juga dialami oleh keluarga. 42 % dari mereka pernah menjadi perbincangan dan 27 % dijauhi oleh tetangga.

Semakin banyaknya orang-orang terpapar oleh COVID-19 tidak hanya mempengaruhi keadaan fisik dan fisiologis saja, tetapi juga psikologis seseorang. Keluarga, yang dikenak sebagai dukungan utama yang dimiliki setiap individu diharapkan dapat saling menguatkan satu sama lain, terlebih lagi jika ada anggota keluarganya yang terpapar COVID-19. Daks, et.al (2020) dalam penelitiannya menemukan bahwa fleksibilitas psikologis yang dimiliki oleh anggota keluarga, khususnya orang tua dapat memperkuat kesiapan anggota keluarga dalam menghadapi krisis global. Denan adanya kesiapan dan dukungan keluarga ini, seseorang yang terjangkit atau penyintas dapat meningkatkan resiliensiLantas, bagaimanakah keluarga dapat saling menguatkan anggota keluarganya agar dapat menghadapi situasi ini dan kembali bangkit?

Definisi dan Peran Keluarga

Oleh : Fadia Azzahra (Universitas Jambi)

Definisi Keluarga

Menurut KBBI, keluarga adalah ikatan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat serta biasanya terdidri dari ayah,ibu, dan anak-anaknya, atau semua orang di rumah yang menjadi tanggung jawab keluarga. Friedman,dkk (2010) mendefinisikan keluarga sebagai dua atau lebih individu yang terikat hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengadopsian dalam suatu rumah tangga yang memiliki kedekatan emosional, di mana semua anggota saling berinteraksi satu sama lain dan memiliki perannya masing-masing.

Fungsi Keluarga

Friedman, dkk (2010) menjelaskan ada lima fungsi keluarga:

  1. Fungsi afektif : pemenuhan kebutuhan psikososial anggota keluarga
  2. Fungsi sosialisasi: tempat mengembangkan keterampilan sosial
  3. Fungsi reproduksi: mempertahankan generasi
  4. Fungsi ekonomi: memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga
  5. Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan: menjaga keadaan kesehatan keluarga agar memiliki produktivitas yang tinggi

 

Definisi, Faktor, Aspek, dan Fungsi Resiliensi

Oleh : Indri Andani (Universitas Jambi)

Siti Nurwahideni (Universitas Islam Riau)

Vesty Dheacylia Ramadhani (Universitas Negeri Padang)

Tasha Dwilamiisa Putri (Universitas Negeri Padang)

Risdayani (Universitas Negeri Padang)

Andre Dharmawan (Universitas Negeri Padang)

Monica Wijaya Kusuma Ningrum (Universitas Negeri Padang)

 

Apa itu Resiliensi ?

Menurut Fernanda Rojas (2015) menyatakan resiliensi sebagai kemampuan menghadapi tantangan, resiliensi akan tampak ketika seseorang menghadapi pengalaman yang sulit dan tahu bagaimana menghadapi atau beradaptasi dengannya. Dalam perspektif psikologis Resieliensi digambarkan sebagai dinamika proses adaptasi positif individu berdasarkan pengalaman negatif atau trauma (Luthar & Cicchetti: 2000). Resiliensi kemudian dapat didefinisikan sebagai Isaacson (2002):

  • Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
  • Kemampuan bangkit kembali dari tekanan atau masalah
  • Daya pantul yang terlihat dalam situasi di mana hakekatnya seseorang memiliki resiko besar untuk gagal, tetapi ia tidak gagal

Komponen Resiliensi

Terdapat 7 kemampuan yang membentuk resiliensi, yaitu:

  1. Regulasi emosi: kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi yang menekan
  2. Pengendalian impuls: kemampuan Individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri.
  3. Optimisme: Keyakinan bahwa sesuatu akan berubah menjadi lebih baik
  4. Casual analysis: Kemampuan dalam mengidentifikasi penyebab masalah (sebab-akibat)
  5. Empati: Kemampuan membaca tanda-tanda dari kondisi psikologis dan emosi orang lain
  6. Efikasi diri: keyakinan bahwa individu mampu memecahkan dan menghadapi masalah yang di alami secara efektif
  7. Reaching out: Kemampuan untuk meraih aspek positif kehidupan setelah menghadapi masalah

Faktor Pembentuk Resiliensi

Menurut Davis (1999), faktor-faktor pembentuk resiliensi adalah:

  1. 1.Faktor resiko: mencakup hal-hal yang dapat menyebabkan dampak buruk atau menyebabkan individu beresiko untuk mengalami gangguan perkembangan atau gangguan psikologis.
  2. 2.Faktor pelindung: merupakan faktor yang bersifat menunda, meminimalkan, bahkan menetralisir hasil akhir yang negatif. Ada tiga faktor pelindung yang berhubungan dengan resiliensi pada individu, yaitu
    • Faktor individual: merupakan faktor-faktor yang bersumber dari dalam individu itu sendiri, yaitu , sociable, self confident, self-efficacy, harga diri yang tinggi, memilikitalent (bakat).
    • Faktor keluarga: keluarga yang berhubungan dengan resilensi, yaitu hubungan yang dekat dengan orangtua yang memiliki kepedulian dan perhatian, pola asuh yang hangat, teratur dan kondusif bagi perkembangan individu, sosial ekonomi yang berkecukupan, memiliki hubungan harmonis dengan anggota keluarga lain.
    • Faktor masyarakat sekitar : memberikan pengaruh terhadap resiliensi pada individu, yaitu mendapat perhatian dari lingkungan, aktif dalam organisasikemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal.

Faktor yang Meningkatkan Resiliensi

Menurut Benard (2004),   ada tiga hal yang dapat diberikan lingkungan untuk meningkatkan resiliensi seseorang.

  • Caring relationship.

Adalah dukungan cinta yang didasari oleh kepercayaan dan cinta tanpa syarat. Caring relationship dikarakteristikkan sebagai dasar penghargaan yang positif. Contohnya seperti memegang pundak, tersenyum, dan memberi salam.

  • High expectation massages.

Merupakan harapan yang jelas, positif, dan terpusat kepada seseorang. Harapan yang jelas merupakan petunjuk dan berfungsi mengatur dimana orang dewasa memberikan harapan tersebut untuk perkembangan seseorang. Harapan yang positif, dan terpusat mengomunikasikan kepercayaan yang mendalam dari orang dewasa dalam membangun resiliensi dan membangun kepercayaan dan memberikan tantangan untuk membuat seseorang menjadi apa yang mereka inginkan.

  • Opportunities for participation and contribution.

Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, memiliki tanggung jawab, dan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Di samping itu opportunities juga memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan problem solving dan pengambilan keputusan

 

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Resiliensi

Oleh : Universitas Abdurrab Riau

 

Hubungan Resiliensi dan Dukungan Keluarga

Resiliensi sering diartikan sebagai ketahanan. Ketahanan secara umum didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengatasi kesulitan, atau untuk berkembang meskipun menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup. Konsep ketahanan menjadi semakin populer dalam penelitian mengenai cara-cara individu, keluarga dan komunitas pulih dari trauma, seperti trauma akibat bencana, perang, atau kehilangan anggota keluarga (Mawarpury, 2017).

Seorang yang resilien bukan individu yang imun, tahan dan dapat terbebas sama sekali dari tekanan. Individu resilien bukan seorang yang sakti mandraguna, memiliki tameng sedemikian rupa sehingga selalu bebas dari berbagai kesulitan. Konsep resiliensi tidak menggambarkan hal yang demikian. Ketika menghadapi situasi yang menekan, individu resilien tetap merasakan berbagai emosi negatif atas kejadian traumatik yang dialami, Mereka tetap merasakan marah, sedih, kecewa, bahkan mungkin cemas, khawatir, dan takut, sebagaimana orang lain pada umumnya. Hanya saja, individu resilien memiliki cara untuk segera memulihkan kondisi psikologisnya, lalu bergerak bangkit dari keterpurukan. ( Hendriani, 2018).

Dukungan keluarga adalah faktor penting dalam menciptakan ketahanan dalam upaya untuk merawat pasien skizofrenia., Kesimpulan: ada hubungan yang moderat, positif dan signifikan antara dukungan keluarga dengan resiliensi (Pesik dkk, 2020).

 

Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga ?

Oleh : Nacha Agnestasya Yuama Putri (Universitas Muhammadiyah Lampung)

  • Laporkan anggota keluarga yang terpapar yang terpapar kepada ketua RT/RW/ SATGAS penanganan Covid-19 setempat/ puskesmas agar dapat dilakukan tracking kepada kontak erat adalah:
    • Kontak tatap muka /berdekatan dalam radius satu meter daam jangka waktu 15 menit atau lebih
    • Sentuhan fisik langsung seerti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain lain
    • Perawat yang kontak langsung dengan orang yang terpapar tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.
    • Situasi lain yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian tim satg-as penangana covid-19 setempat.
  • Anggota keluarga yang memenihi kriteria kontak erat harus melakukan karantina selama 14 hari dan wajib melakukan pemeriksaan swab PCR.
  • Bila terdapat anggota keluarga bergejala covid-19 segera periksakan diri kefasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan swab PCR, maka orang tersebut harus melakukan isolasi sampai dinyatakan ne-gativ covid-19.
  • Jika terdapat anggota keluara yang positif covid-19, maka lakukan isolasi mandiri di rumah sampa dinyatakan seesai oleh petugas kesehatan
  • Kalau terdapat anggota keluarga yang positif covid-19 meninggal dunia, maka pemaaman dilakukan sesuai protokol Covid-19.

 

Doesn’t matter how the world perceive and treat me, I have my home sweet home called Family

 

REFERENSI

Bernard, B. (2004). Resiliency: What We Have Learned. San Francisco, CA: WestEd Regional Educational Laboratory

Daks J.S., Peltz J.S. & Rogge R.D., Psychological Flexibility and Inflexibilityas Sources of Resiliency and Risk during a Pandemic: Modeling the Cascade of COVID-19 Stress onFamily Systems with a Contextual Behavioral Science Lens, Journal of Contextual Behavioral Science,https://doi.org/10.1016/j.jcbs.2020.08.003.

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset,Teori, & Praktik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Fernanda Rojas, L. (2015). Factors affecting academic resilience in middle school students : A case study. Gist Education And Learningresearch Journal, 11(11), 63– 78.

Davis,  N.J. (1999). Resilience: Status of research and research-based programs. Working paper, Center for Mental Health Services, Substance Abuse and Mental Health Services Administration, U.S. Department of Health and Human Services; Rockville

Pijarpsikologi.org

Qhori Anandra. (2019). 3 Tips Meningkatkan Resiliensi. https://www.Ibunda.id

Ramdhani, R. N., & Kiswanto, A. (2020). Urgensi Adaptabilitas dan Resiliensi Karier pada Masa Pandemi. Indonesian Journal of Educational Counseling, 4(2), 95-106.

Pragholapati, A. (2020). Resiliensi Pada Kondisi Wabah Covid-19., 1-9.

Vania, H. F. (2020, November 17). Jurnalisme Data. Retrieved November 23, 2020, fromKatadata.co.id: https://katadata.co.id/ariemega/berita/5f95092d61de8/survei-pasien-hinggapenyintas-covid-19-kerap-hadapi-stigma

https://covid19.go.id/berita/data-vaksinasi-covid-19-update-28-februari-2021

Mawarpury, M; Mirza. (2017). RESILIENSI DALAM KELUARGA: PERSPEKTIF PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran

Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Jurnal Psikoislamedia. Volume 2, Nomor 1.

Yessica Christy Riany Pesik, Ralph B. J. Kairupan, Andi Buanasari. (2020). HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN RESILIENSI CAREGIVER SKIZOFRENIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS POIGAR DAN PUSKESMAS ONGKAW. Volume 8 Nomor 2,  11-17 ISSN:2302-1152.

Hendriani, W. (2018). RESILIENSI PSIKOLOGIS sebuah pengantar. Jakarta Timur. Gramedia Group.

Rohmah, H. (2020). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESILIENSI KLIEN DENGAN

DIABETES MELLITUS YANG MENJALANI PERAWATAN DI RUMAH

SAKIT PHC SURABAYA . Perpustakaan Universitas Airlangga.

  • Reivich. K dan Shatte A. (2002). Handbook of resilience in children

Tinggalkan Balasan