Pengaruh Emosi Terhadap Kreativitas Remaja

Oleh : Rodhiyatul Mardhiyyah. Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau. rodhiyahdhiyah29@gmail.com

Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1992). Masa remaja berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai dengan 22 tahun bagi pria. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Remaja bukanlah anak-anak baik bentuk, badan, ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun secara psikis.

hjl

Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Jiwa remaja adalah jiwa-jiwa yang abstrak, dibutuhkan berbagai sudut pandang untuk memahami remaja. Dalam ilmu kedokteran remaja dikenal sebagai tahap berkembangnya fisik, dimana alat-alat reproduksi mencapai tahap kematangannya. Adapun remaja dari sudut pandang psikologis, remaja berada pada tahap puncak perkembangan ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi entropy ke kondisi negen-tropy. Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia belum tersusun rapi. Selama masa remaja, kondisi entropy ini secara bertahap akan disusun, distruktur, dan diarahkan kembali sehingga lambat laun akan menjadi kondisi negen-tropy yaitu keadaan dimana isi kesadaran terisi dengan baik.

Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang sangat pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosinya. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja ditandai dengan (1) kegelisahan, (2) pertentangan, yaitu pertentangan yang terjadi didalam diri remaja, (3) berkeinginan besar untuk mencoba segala hal  yang belum diketahuinya, (4) keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, (5) mengkhayal dan berfantasi, (6) aktifitas berkelompok. Karakeristik ini pula yang mesti diketahui oleh remaja agar bisa menempatkan peran dan fungsi dirinya sebagai seorang remaja.

Ir. Soekarno, presiden Indonesia pertama menyatakan, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Untuk mencapai dan memajukan kesejahteraan umum sebagaimana yang tertuang dalam tujuan dan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Peran pemuda, yang dalam hal ini adalah remaja, sangat menentukan keberlangsungan cita-cita tersebut dimasa depan. Jika remaja saat ini memiliki integritas dan kreativitas yang rendah  maka 10 tahun kedepan indonesia akan mengalami kehancuran , sebaliknya jika remaja saat ini memiliki integritas dan kreativitas yang tinggi  maka Indonesia akan berada pada puncak kejayaan. Urgensi peran remaja inilah yang sudah sepatutnya menjadi perhatian orang dewasa dan masyarakat, sebagai lingkungan pembimbing.

Salah satu perkembangan yang dialami oleh remaja adalah perkembangan emosi. Remaja dengan emosi dan psikologisnya yang labil menjadi sesuatu yang sangat penting  untuk diperhatikan, dibangun, dibina, untuk menghasilkan output sikap dan sifat yang positif dan tidak akan layu tunduk meredup oleh godaan negatif yang datang dari lingkungan. Menurut Dr. Abdullah Abdul Hayy Musa emosi adalah perubahan tiba-tiba yang meliputi segala aspek individu, baik psikis maupun fisiknya. Emosi bersifat subjektif. Emosi ada yang bersifat positif ada yang bersifat negatif. Para psikolog mengkaji emosi dengan memberi perhatian yang sesuai dengan urgensinya dalam kehidupan manusia. Emosi punya pengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik manusia, serta pengaruh terhadap perilaku pribadi dan sosial. Emosi dirasakan secara psiko-fisik karena terkait langsung dengan jiwa dan fisik. Dalam usia remaja perubahan emosi dan psikologis sangat pesat sekali.

Menurut James & Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologi yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku. Gejala-gejala emosi pada remaja sepeti perasaan sayang, marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Pemahaman dan pengelolaan terhadap emosi berpangaruh terhadap bagaimana remaja menjalankan kehidupannya. Pengelolaan emosi yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula terhadap kehidupan remaja, dan begitu juga sebaliknya.

Pengelolaan itu sendiri adalah suatu kegiatan pemanfaatan dan pengendalian atas semua sumber daya yang diperlukan untuk mencapai ataupun menyelesaikan tujuan tertentu (Prajudi atmosurdirdjo, 1982). Pengelolaan emosi itu penting. Seorang remaja harus memiliki kecerdasan emosi. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan diri pada orang lain. Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali , mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat luapan emosi. Jika seorang remaja mampu mengelola emosinya dengan baik dan positif, maka sifat sifat seperti mandiri dalam berfikir, berani berbeda pendapat, dan rasional dalam menimbang dan memutuskan tindakan akan menghasilkan sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan dengan kebiasaan tersebut akan menumbuhkan sifat kreatif sebagai diri seorang remaja.

Fenomena remaja yang terjadi saat ini yang terlihat di lingkungan kita sehari-hari, adanya prinsip kalah sebelum berperang, yaitu suatu sikap tidak mau mencoba terhadap kegiatan dengan alasan tidak mampu melakukannya. Mereka kerap kali enggan melakukan hal-hal yang berbau positif dan mengembangkan kreativitas mereka. Remaja sering merasa gengsi ketika melakukan pekerjaan yang padahal membuat mereka kreatif. Kurangnya kesadaran generasi muda untuk berkreasi ditandai dengan kecenderungan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, padahal semestinya diwaktu muda inilah kesempatan remaja untuk banyak mengasah keterampilan dan potensi dirinya. Mereka bukan tak cerdas, tapi kurang motivasi. Mereka bukan tak mampu tapi kurang pembinaan diri. Mereka bukan tak bisa mandiri, tapi kurang inspirasi. Mereka bukan tak mau bergerak, tapi kurang teladan.

Kreativitas merupakan kemampuan membentuk konsep baru dari dua konsep atau lebih dalam pikiran. Kreativitas memiliki peranan yang sangat penting karena memberi berbagai manfaat. Kreativitas memberikan andil yang sangat besar dalam setiap kesuksesan. Dengan kreativitas akan membuat hidup menjadi lebih indah karena akan dikelilingi oleh hal-hal yang bervariasi dan tidak monoton, meningkatkan motivasi dan semangat hidup. Kreativitas menjadi langkah awal terjadinya inovasi (penemuan)dan perubahan-perubahan. Kreativitas berperan besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup manusia.

Seorang remaja, sebenarnya, memiliki kualitas kreativitas yang sangat baik ketimbang orang dewasa. Ide-ide elegan akan muncul dari diri seorang remaja yang mampu mempertahankan kreativitasnya. Tapi fakta yang terjadi saat ini, banyak remaja tidak mengasah kreativitasnya, mereka disibukkan oleh hal-hal yang menjadi faktor penghambat berkembangnya kreativitas.

Menurut Clark faktor yang menghambat berkembangnya kreativitas adalah :

  1. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidak beranian dan menanggung resiko, atau mengejar sesuatu yang belum diketahui
  2. Konfirmitas terhadap teman-teman kelompok dan tekanan sosial
  3. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan
  4. Stereotip peran seks atau jenis kelamin
  5. Diferensiasi antara bekerja dan bermain
  6. Otoritarianisme
  7. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan

Seorang remaja yang berada pada tempat yang sangat berkembang atau maju, belum tentu mengalami tingkat kreativitas yang tinggi. Tapi, remaja yang berada pada daerah yang sulit atau pada keadaan sulit memungkinkan dirinya bisa mencapai kreativitas tertinggi dan mampu memunculkan dirinya. Untuk itu dibutuhkan aktivitas-aktivitas yang bagus untuk mendukung kreativitas.

Berikut  beberapa aktivitas yang mendukung berbagai kreativitas :

  1. Eksplorasi dan Eksperimen

Eksplorasi maupun eksperimen dilandasi oleh rasa keingintahuan.  Biasanya rasa ingin tahu itu disalurkan dalam bentuk permainan. Eksplorasi dan eksperimen sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas. Karena dengan begitu para remaja akan bereksplorasi dan mencari berbagai informasi-informasi baru. Informasi tersebut kemudian akan membantu pembentukan dan pengembangan konsep remaja.

Kemudian, eksperimen adalah bentuk sikap dari informasi yang didapat. Maka dengan begitu dengan eksperimen, remaja bisa mendapatkan petunjuk untuk membuat hal yang baru, mengiyakan atau mengabaikan sebuah konsep dari informasi yang diterimanya.

  1. Imaginative Play

Dalam permainan, dikembangkan fungsi-fungsi kognitif, afektif dan psikomotor. Ada juga permainan yang hanya mengembangkan satu atau dua aspek saja.

  1. Active Play

permainan yang berfungsi mengembangkan kemampuan fisik. Yaitu permainan yang melakukan gerak tubuh dan memerlukan tenaga. Permainan ini juga bisa disebut permainan aktif.

  1. Constructive Play

Permainan ini lebih berfungsi pada daya pikir seperti games, kuis, dan tebakan.

Untuk mengatur pengelolaan/pembiasaan emosi yang positif dan menciptakan pribadi remaja yang memiliki kreativitas yang baik, tentu saja dibutuhkan dukungan dari keluarga dan masyarakat sebagai lingkungan pembimbing remaja. Pada intinya, orang tua sangat berperan penting pada pengelolaan emosi dan perkembangan kreativitas anak. Daya dukung orang tua pada kreativitas anaknya, akan membuat anak lebih kreatif. Torrance juga menekankan pentingnya dukungan dan dorongan dari lingkungan agar individu dapat berkembang kreativitasnya. Menurutnya, satu lingkungan pertama dan utama yang dapat mendukung bahkan menghambat kreativitasnya adalah lingkungan keluarga, terutama interaksi dalam keluarga tersebut. Meningkatkan kreativitas anak yang sudah beranjak dewasa dimulai dari komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik akan mampu menciptakan anak yang luwes dan pandai bergaul.

Jika seorang remaja  mampu mempertahankan kreativitasnya, maka akan dapat tercipta ide-ide baru, cara-cara baru, dan hasil-hasil yang baru. Kreativitas tidak hanya sekedar keberuntungan, tetapi merupakan kerja keras yang disadari. Pembiasaan emosi yang positif pada diri remaja yang dibina dari awal akan menumbuhkan kreativitas yang postif pula dalam hidup dan kehidupannya, guna mencapai tujuan pembangunan   yang besar yaitu pembangunan sumber daya penerus Indonesia. Mulailah ide-ide sederhana untuk menjadi lebih kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Nisfiannoor, M & Kartika, Yuni. 2004. Hubungan Antara Regulasi Emosi dan Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Pada Remaja. Jurnal Psikologi Volume 02 Nomor 02 Desember 2004.

Kisti, Hepy Hapsari & N, Nur Ainy Fardana.2012.Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kreativitas pada Siswa SMK. Jurna Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Volume 01 Nomor 02 Junii 2012.

Post Author: adminwilayahsatu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *