Mempelajari Karakter melalui Role Model

funfact01

Bertahun tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1908, kita telah mengetahui sebuah sejarah yang mengubah cerita tentang pendidikan di Indonesia. Beliau telah menumbuhkan rasa ingin tahu dan butuh untuk mendapatkan pendidikan sehingga banyak rakyat Indonesia yang berpendidikan dan berhasil memerdekakan negara ini. Saat ini, tentu saja tujuan pendidikan masih sama, mengubah seorang yang tidak tahu menjadi tahu, seorang yang tahu menjadi paham, dan seorang yang paham menjadi seorang yang menerapkan ilmunya bagi sesama.

Akan tetapi, sasaran pendidikan saat ini sungguh berbeda dengan beberapa tahun silam. Setelah banyaknya kasus-kasus kenakalan remaja, masyarakat yang kurang memakai norma yang ada, sebuah paradigma pendidikan baru pun hadir. Paradigma dimana sasaran pendidikan tidak lagi sekedar tentang pengetahuan, melainkan sebuah pembentukan karakter yang baik.

Pembentukan karakter seperti yang diungkapkan Huitt dalam “Moral dan Character Development” meliputi :

  1. Tanggung jawab dan perilaku yang baik menurut moral dan etika yang berlaku.
  2. Kapasitas untuk pembentukan perilaku disiplin
  3. Pemikiran secara moral dan etis dalam melihat nilai, tujuan, dan proses dari masyarakat
  4. Standar dari karakter dan ide individu

Pembentukan karakter seperti yang dicantumkan diatas memang dilakukan untuk semua usia, termasuk para pekerja melalui “revolusi mental”. Akan tetapi, pembentukan karakter normalnya dimulai pada masa kanak-kanak dimana seorang individu bersama dengan keluarganya. Pada masa itu, keluarga menjadi role model untuk moral, nilai norma, dan perilaku yang akan ditiru oleh anak.

Pembelajaran melalui model inilah yang disampaikan oleh Bandura dalam “Social Learning Theory”, dimana sebagian besar perilaku yang dilakukan individu dipelajari melalui contoh langsung dari orang-orang disekitarnya. Contoh yang paling sederhana adalah ketika orang tua makan dengan tangan kanan, anak pun akan meniru perilaku tersebut setiap ia akan makan. Dalam pembelajaran dengan model ini ada beberapa factor yang mempengaruhi.

  1. Attentional Process

Sebuah model belum tentu akan dapat menjadi contoh jika individu tidak memperhatikannya. Itulah salah satu sebab mengapa contoh perilaku di televisi maupu internet (video film, MV, dll) lebih banyak ditiru oleh individu (anak dan remaja) di masa sekarang. Perhatian mereka yang lebih pada media tersebut disbanding orang tua dan orang disekitar mereka menyebabkan mereka lebih meniru contoh perilaku di media massa dibandingkan keluarga.

  1. Retention Process

Setelah memperhatikan, pengaruh dari sebuah model baru terasa ketika individu mengingat perilaku tersebut. Karena itu dalam percobaan Bandura, model diperlihatkan berkali-kali sehingga anak menjadi ingat. Tampilan model dengan simbol dan asosiasi juga akan meninggalkan ingatan pada individu.

Mengambil contoh diatas misalnya, contoh perilaku di media massa biasanya menggunakan simbol dan asosiasi yang cukup banyak (Contoh : geng motor diasosiasikan dengan kekerenan). Hal ini tentu saja meninggalkan kesan tertentu pada individu dan mungkin saja ia akan menirunya jika tidak diimbangi dengan pendidikan moral.

  1. Motoric Reproduction Process

Setelah memperhatikan dan mengingat, individu tentu akan ditempatkan di lingkungan masyarakat. Dalam setting masyarakat, situasi tertentu akan berasosiasi dengan perilaku yang ditampilkan model. Misalnya, perilaku menggunakan tangan kanan ketika makan.

  1. Reinforcement and Motivational Process

Nah, proses terakhir ini sangat penting dalam penerapan perilaku dari model. Ketika seorang individu mendapatkan respon (minimal verbal) yang baik dari orang lain, individu cenderung akan mengulanginya lagi sampai hal tersebut menjadi kebiasaan. Misalnya, perilaku menyontek.

Budi yang pertama kali menyontek karena temannya mendapat respon yang baik, seperti “Wah, udah berani ya lo?” atau “Gimana, asik kan?”. Budi merasa termotivasi dengan kalimat itu lalu mencobanya lagi pada ujian-ujian yang lain hingga terbiasa.

Tentu saja reinforcement ini bukan saja pada hal yang buruk. Pada keluarga misalnya, ketika seorang anak berinisiatif membantu ibunya yang sedang bekerja, ayah berkata “Kamu hebat, ya! Sudah membantu Ibu”. Anak merasa termotivasi lalu melakukannya lagi hingga terbiasa.

Pada proses tersebut, kognitif individu memang berperan terhadap penyaringan contoh perilaku dari media massa. Contohnya, perilaku perkelahian di televisi. Seorang anak yang sudah diajarkan untuk menyelesaikan masalah tanpa perkelahian fisik tentu tidak akan menerapkan contoh perilaku itu. Sayangnya, pendidikan karakter secara kognitif sering berbanding terbalik dengan contoh yang ada, baik di sekolah, rumah, maupun media massa. Wajar jika anak-anak lebih sering memperhatikan hal-hal yang lebih menarik dari pada penanaman moral, seperti perilaku teman-temannya yang suka bermain game di warnet dan sebagainya.

Untuk mengatasi hal tersebut, akan lebih baik jika keluarga dan pihak sekolah menjadi contoh terlebih dahulu. Melakukan hal-hal yang sesuai norma dan karakter yang diajarkan ditambah respon positif yang memotivasi. Hal ini dapat menyeimbangkan pendidikan kognitif yang telah dilakukan sebelumnya seperti diskusi isu moral, latihan-latihan bertingerasi moral (seperti pembelajaran K-13) serta pengajaran langsung dari keluarga di rumah.

Sumber :

Bandura, A. 1971. Social Learning Theory. New York : General Learning Press

Huitt, W. 2004. Moral and character development. Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA: Valdosta State University. http://www.edpsycinteractive.org/morchr/morchr.html. Diakses tanggal 6 Mei 2017 pukul 13:22.

Post Author: adminwilayahsatu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *