Loading…

INTERNATIONAL HUMAN RIGHTS : ADA HATRED DI BALIK FREEDOM

Oleh : BPPK ILMPI Wilayah I

Recover Better- Stand Up For Human Rights

Hari ini, tepatnya tanggal 10 Desember merupakan Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Hari HAM Internasional dirayakan untuk mengenang hari dadopsinya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948. Dilansir dari Tema yang diusung tahun ini adalah Recover Better – Stand Up for Human Rights yang diaggas dengan melihat kondisi pandemi Covid-19.

Pernahkah kamu mendengar ini ?

“Suka-suka saya dong, kita kan ada hak bebas berpendapat”, “Ya kan hak asasi, kok kamu yang ngatur?” “Ngga usah liat komentar saya kalo ngga suka”, “ Tanggapan kamu jahat sekali, toxic,tau.”dan sebagainya. Apakah kamu sering menemui kata-kata seperti itu? Atau bahkan mungkin kamu pernah melontarkan kata-kata seperti itu? Jika menemui berbagai tanggapan seperti itu, biasanya erat kaitannya dengan topik freedom of speech dan hate speech. Apa itu ?

Freedom of Speech

Kebebasan berbicara adalah hak moral atas kebebasan berekspresi, persyaratan moral mendasar bahwa pelaku harus bebas untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan orang lain (Scanlon, 2011:332). Hak ini juga diatur dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia 1948: “Setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi; hak ini mencakup hak untuk mencari, menerima dan berbagi informasi dan ide melalui media apapun dan tanpa memandang batas negara.”

Can This Freedom Create Controversies ?

Kapoor (2015) menjelaskan dengan adanya kebebasan dalam mencari kebenaran serta menyampaikan opini yang ia percayai kebenaran, perdebatan pun menjadi tak terelakkan. Ia juga berpendapat bahwa hanya ada dua pilihan, apakah kita akan memegang prinsip kebebasan berpendapat yang absolut, atau tidak sama sekali. Bollinger (2018) menemukan bahwa setiap negara memiliki caranya sendiri untuk membuat pengaturan dan limitasi terhadap hak kebebasan berbicara, terutama public speech.

Lalu, bagaimana bisa menjadi Hate Speech ?

Hate Speech merupakan ujaran yang tidak hanya semata-mata mengekspresikan kebencian, tetapi ujaran yang ditujukan kepada kelompok tertentu yang dianggap kurang relevan, tidak diinginkan, atau kelompok tertentu yang membangkitkan permusuhan (Howard,2019). Hate Speech juga dapat ditujukan untuk menunjukkan adanya ketidakadilan yang bengis (Howard,2019).

Apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir timbulnya Hate Speech ?

Tumbuhkan toleransi. Kita tidak hanya focus kepada pembicara, tetapi kita perlu mempromosikan bagaimana seharusnya bersikap saat menerima informasi, salah satunya dengan toleransi (Bollinger, 1988). Cermat dalam memilah informasi agar tidak mudah terprovokasi. Telaah dulu konten yang akan kamu sampaikan, apakah itu benar, bermanfaat, dan disusun dengan baik.

Menurutmu, apa lagi yang dapat dilakukan ?

“I disagree with what you say, but I will defend to the death your right to say it. “

Attributed to Voltaire

REFERENSI

Anwar, I. C. (2020, December 7). Tema Hari Hak Asasi Manusia HAM 10 Desember 2020. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/tema-hari-hak-asasi-manusia-ham-10-desember-2020-f7Pm

Bollinger, L. C. (1988). The Tolerant Society. Oxford: Oxford University Press.

Bollinger, L. C., & Stone, G. R. (2018). Free Speech Century. Oxford: Oxford University Press.

Howard, J. W. (2019). Free Speech and Hate Speech. Annual Review of Political Science, 94-109.

Kapoor, R. S. (2015). There is No Such Thing As Hate Speech: A Case for Absolute Freedom of Expression. -: https://1lib.us/book/5211422/e72365.

Scanlon, T. (2011). Comment on Shiffrin’s Thinker-Based Approach to Freedom of Speech. -: -.

UNESCO. (2013). Toolkit Kebebasan Berekspresi Bagi Aktivis Informasi (Terjemahan). Paris: UNESCO.

Tinggalkan Balasan