​Bullying : Faktor dan Pencegahan.

Bullying, istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Setiap hari kita sudah sering membicarakannya. Mulai dari postingan blog, sosial media, sampai tulisan di dinding kampus mengutuk perbuatan tersebut. Sayangnya, gelombang perilaku bullying seakan tidak habis dimakan usia. Beberapa hari yang lalu, kita melihat kasus-kasus bullying yang viral dan menjadi highlight di berita-berita media cetak maupun elektronik.

PicsArt_07-24-03.36.31.jpg

Mulai dari kasus bullying di SD sampai Perguruan Tinggi sangat lengkap bertebar beberapa hari ini. Ada yang ditarik tasnya, dijambak rambutnya, ataupun perilaku lainnya seperti mengejek, menyudutkan, dan perkataan buruk lainnya yang berpengaruh pada keadaan seseorang yang dibully. Hal yang kita lihat ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh P. Endah Rahayu, salah seorang psikolog klinis. Menurutnya, bullying saat ini seperti sudah menjadi tren di masyarakat.

Menurut psikolog Andre Mellor, bullying adalah pengalaman yang terjadi ketika seseorang merasa teraniaya dengan perlakuan orang lain, sehingga menjadi takut akan perlakuan berikutnya sementara ia tak dapat mengatasinya (Setyawan, 2014). Menurut P. Endah Rahayu, bully terbagi atas bully fisik dan bully psikis. Bully fisik dilakukan melalui perlakuan fisik. Sementara bully psikis dilakukan melalui berbagai macam media, seperti verbal, tulisan, media massa, sampai media cyber.

P. Endah Rahayu mengungkapkan, untuk memberikan langkah pencegahan atau pengobatan untuk korban dan pelaku bullying, kita harus mengetahui dulu penyebab seseorang menjadi korban bullying dan motif seseorang dalam melakukan bullying. Penyebab seseorang menjadi korban bullying, dituliskan oleh Andrew Mellor dalam bukunya yaitu : perbedaan kulit, perbedaan kepercayaan, mempunyai disabilitas (baik fisik maupun mental), berpakaian berbeda, dan memiliki perbedaan kelas sosial dengan orang yang membully.

Ada penelitian menarik yang dilakukan oleh Windi Sartika Lestari yang menganalisis faktor terjadinya perilaku bullying. Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor terjadinya perilaku bullying meliputi : (1) faktor keluarga, dimana subjek penelitian yang diteliti mengungkapkan bahwa keluarga mereka jarang memberika waktu untuk berkomunikasi, kurang harmonis, dan sering terjadi pertengkaran hingga bercerai; (2) faktor teman sebaya, terungkap bahwa teman-teman pelaku berada pada status sosial tinggi, suka berkelompok dan membicarakan orang yang tidak mereka sukai; (3) faktor media massa, dimana ada kasus cyberbullying yang dilakukan subjek kepada korbannya melalui BBM (Lestari, 2016: 154-155).

Faktor ketiga sejalan dengan apa yang dituturkan P. Endah Rahayu, bahwa media sosial saat ini sangat berpengaruh terhadap perilaku negatif masyarakat, termasuk bullying. Hal itu dapat dibuktikan dengan viralnya video instagram story mahasiswa yang membully temannya, dan video anak SMP yang membully anak SD di pusat perbelanjaan. Hal ini dapat menjadi contoh buruk bagi anak-anak, sehingga mereka meniru perilaku tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Bandura, bahwa sebagian besar perilaku yang dilakukan individu dipelajari melalui contoh langsung dari orang-orang disekitarnya.

Untuk itu, pengguna sosial media terutama anak-anak hingga remaja perlu diawasi secara khusus oleh orangtua, agar orangtua mengetahui bagaimana pergaulan sang anak dan bagaimana lingkungan disekitar anak. Pengawasan bukan hanya pada penggunaan sosial media, tetapi juga pengawasan kegiatan anak di sekolah dan rumah. Dengan pengawasan ini, perilaku bullying dapat dicegah sebelum menjadi kasus yang parah.

Salah satu cara lain untuk mencegah perilaku bullying yaitu dengan membina karakter anak sejak mereka kecil. Orang tua dapat mengajarkan nilai-nilai moral dasar kepada anak dan mencontohkannya. Karena pada golden age, anak sangat mudah untuk mencontoh, dan hal itu menjadi tumpuan karakternya pada masa yang akan datang. Selain itu, guru juga berperan dalam memberikan contoh, memberikan konsultasi dan pemecahan masalah dalam menghadapi kasus-kasus seperti bullying. Hal ini senada dengan pendapat P. Endah Rahayu, “peran orangtua dan guru sangat penting dalam pembentukan karakter anak.”

Sumber :

Setyawan, Davit. 2014. KPAI : Kasus Bullying dan Pendidikan Karakter. http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-Bullying-dan-pendidikan-karakter/. Diakses pada tanggal 24 Juli 2017 pukul 7:57.

Lestari, Windi Sartika. 2016. “Analisis Faktor-Faktor Penyebab Bullying di Kalangan Peserta Didik”. SOSIO DIDAKTIKA : Social Science Education Journal Vol. 3 No. 2. doi: 10.15408/sd.v3i2.4385.

Mellor, Andrew. 1997. Bullying at School : Advice for Families. Edinburgh : The Scottish Council for Research in Education.

Bandura, A. 1971. Social Learning Theory. New York : General Learning Press

Post Author: adminwilayahsatu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *